Urgensi membaca tidak dapat dipungkiri lagi. Sebab, membaca dapat meningkatkan pengetahuan serta memperluas wawasan. Namun demikian, seringkali kita terburu puas jika kita sudah banyak membaca artikel atau teks lainnya. Seringkali kita lupa untuk kritis dalam membaca. Alhasil, kita belum bisa menjadi produsen artikel atau teks yang mampu mengembangkan pemikiran baru. Justru sebaliknya, seringkali kita hanya menjadi pengikut atau tukang copy paste pemikiran orang lain.

Maka dari itu, kritis dalam membaca sangatlah diperlukan. Soedarsono (1994) mengatakan, membaca kritis (critical reading) adalah cara membaca dengan melihat motif penulis dan menilainya. Pembaca tidak sekedar menyerap apa yang ada, tetapi ia bersama-sama penulis berpikir tentang masalah yang dibahas. Membaca secara kritis berarti kita harus mampu membaca secara analisis dengan melakukan penilaian. Dalam membaca harus ada interaksi penulis dengan pembaca yang saling mempengaruhi sehingga terbentuk pengertian baru.

Adanya interaksi antara penulis dengan pembaca inilah yang akan menelurkan sebuah pemikiran baru. Artinya, pemikiran penulis suatu artikel atau buku dapat dikembangkan oleh pembaca. Bahkan, pemikiran penulis suatu artikel atau buku dapat juga ditolak dan dikoreksi oleh pembaca. Singkat kata, membaca secara kritis dapat memproduksi gagasan atau pemikiran baru.

Memang, membaca secara kritis tidak serta merta dapat dilakukan setiap orang. Membaca secara kritis perlu dilatih secara terus-menerus. Adapun langkah membaca secara kritis adalah sebagai berikut. Pertama, pembaca harus mengetahui topik atau isu yang dibahas dalam suatu artikel atau teks yang sedang dibaca. Kedua, pembaca harus mengetahui alasan yang digunakan penulis dalam membangun argumen. Apakah penulis menggunakan fakta, teori atau keyakinan? Ketiga, pembaca harus mengenali kata-kata yang digunakan penulis. Apakah penulis menggunakan kata-kata yang netral atau emosional? Pembaca yang kritis selalu mencermati bahasa yang digunakan penulis untuk menilai apakah argumen atau alasan penulis dikemukakan dengan jelas, netral atau tidak emosional. Keempat, pembaca harus mengetahui alasan menerima atau menolak argumen yang dikemukakan penulis. Dengan demikian, pembaca tidak serta-merta menolak atau menerima pemikiran penulis artikel atau teks. Akan tetapi, penolakan atau penerimaan terhadap pemikiran penulis artikel atau teks dilakukan secara sadar.

Empat langkah diatas, menurut saya patut kita praktikkan dalam setiap membaca artikel atau teks. Sebab, bukan artikel atau teks apa yang sudah kita baca. Akan tetapi, bagaimana cara kita membaca artikel atau teks. Selamat mencoba!


Categories: ,