DIKSAR : Think Global , Act Local


Minggu 14 april 2013 , Ikatan Mahasiswa Bantul (IMABA) Mengadakan Diksar yang ke-4 Dengan tema "Think Global , Act local" ( Berpikir Global , Bertindak Lokal) berlokasi di Gedung Pemuda dan Olahraga Bantul, Diksar tersebut di tujukan untuk anggota baru yang telah mengikuti open recruitment. Menghadirkan Pembicara Wahyudi Anggoro Hadi (Lurah Panggungharjo,Sewon,Bantul) menyampaikan tentang budaya lokal dan Zuhad Aji Firmantoro (Aktivis GEBRAK) membahas tentang Kemahasiswaan dan di moderatori oleh Riki setyawan (Kadept. Pendidikan IMABA).
Kegiatan di buka oleh Viki wulandari sebagai MC kemudian di lanjutkan dengan Sambutan oleh KETUM IMABA yaitu Fadri Mustofa  .

Sesi pertama di isi oleh Wahyudi Anggoro hadi menyampaikan bahwa saat ini lokalitas budaya sudah sangat jarang bahkan kian menghilang , misalnya saja  yang dekat diantara kita yaitu nama , sudah jarang menamakan nama anak dengan nama lokal , biasanya kalau tidak ke baratan atau ketimur tengahan. kemudian dalam catatan perjalanan sejarah, 

Pemuda merupakan pelopor perubahan  , yang menjadi pertanyaan saat ini adalah kenapa permasalahan-permasalahan yang ada di bangsa ini hanya begitu-begitu saja tidak adanya usaha dalam pemecahan , dan pemuda tidak tergerak sebagai pengambil keputusan di garis depan.semakin pelan kita tidak terasa semakin menghilang karena perubahan zaman, seperti contoh meniup gelembung ketika di tiup akan membesar dan semakin lama akan menghilang. 

Budaya pemuda saat ini  terlau tertarik oleh dunia luar dalam dirinya , misalnya saat  bangun di pagi hari, hal apa yang pertama kali di pikirkan?,entah itu hp atau gadget yang lainnya, seakan-akan dunia berakhir ketika tanpa gadget . fenomena ini merupakan kehilangan sesuatu kegenuinisitasan (genuine) dan keunikan dalam diri yang menjadi suatu ciri khas . kita harus bereksperimen pada diri kita sendiri agar menemukan kegenuinisitasan yang ada dalam diri sehingga kita tahu siapa diri kita yang sebenarnya.

Tradisi lokal yang tumbuh dari masyarakat lokal merupakan sebuah bendungan atau reservoir , yang suatu saat nanti kita akan menyelaminya ketika jenuh. Permainan tradisi atau lokal sebenarnya bila kita ketahui memuat ajaran tentang wicara (kecerdasan verbal), wiraga (kecerdasan motorik), wirama (Keselarasan) dan wirasa (pengendalian rasa atau penjiwaan) serta memuat tentang ajaran-ajaran yang filosofis. namun lagi-lagi zaman saat ini siapa yang masih bermain permainan tradisional.

Kemudian pada penghujung pembicaraannya dibacakan Puisi dengan judul "aku masih sangat hafal nyanyian itu.." karangan Gus Mus .Setelah sesi pertama usai  kegiatan selanjutnya adalah istirahat dan di lanjutkan dengan profil Keorganisasian IMABA . Eka Nurwanta (Kadept. Kaderisasi IMABA) Menjelaskan Profil ,Timeline Kegiatan IMABA beserta perkenalan Pengurus Kepada Anggota Baru

Sesi yang terakhir di isi oleh Zuhad Aji Firmantoro yang membahas tentang Kemahasiswaan nasionalisme dan pergerakan mahasiswa tempo dulu dan bagaimana kondisi mahasiswa saat ini ,dalam beberapa point yang dapat di ambil dari diskusi tersebut, mahasiswa merupakan Pintu untuk membuka "class" yang menentukan dimana posisi diri  sebagai mahasiswa , Mahasiswa yang berkualitas diantaranya memiliki:

 1. keyakinan
 2. spirit perubahan 
 3. semangat (bersungguh-sungguh) dlm berkeyakinan dan perubahan

Menurutnya "demonstrasi yg dilakukan oleh mahasiswa ibarat seorang muslim dalam konsenkuensi bersyahadat , apa konsekuensinya? ,yaitu shalat zakat dll, ketika kita memilih menjadi mahasiswa maka konsekuensi logisnya adalah belajar ,membaca dan demonstrasi itu sendiri.




@Ikatan Mahasiswa Bantul 2018 | Template By Oddthemes