Pasal 27 di Hapus Saja, Bahkan 28 Juga Kalau Perlu (UU ITE)


UUITE-IMABA-Bantul, Mahasiwa Bantul, Mahasiswa

IMABA - Sabtu (26/11) di Ros-In Hotel hadir para Jurnalis, media, aktivis, LBH, hingga LSM dan mahasiswa hadir dalam satu ruangan membicarakan sebuah diskusi apik, dengan judul " Menatah Toleransi dan kebebasan berekspresi di Internet demi menjaga Demokrasi di Indonesia ". banyak sekali prespektif menarik dan fakta-fakta soal media di forum ini.

Bambang ( AJI Yogyakarta sekaligus Dewan etik AJI) menyebutkan ada 2000 media online di Indonesia, namun hanya 211 media yang dapat dikategorikan layak, baik dan memenuhi kriteria.

sebuah wajah dimana menjamurnya media online ini berbaur dengan media mainstream saat ini. bagaimana tidak mungkin sebuah provoaktif merongrong kesatuan bangsa ini lewat media online. kini sikap konsumtif masyarakat tinggi akan berita online. praktis, simple dan cepat walau entah verivikasi sudah memenui syarat etik jurnalis atau belum.

Bicara kebebasan berekspresi, banyak sekali orang dengan bangga menjunjung nilai kebebasan berpendapat. faktanya hatespeech kian banyak juga di media sosial misalnya. harusnya jika orang berani mengatasnamakan kebebasan berekspresi maka sewajarnya sudah paham batasannya. Edo LBH Yogyakarta menyatakan ada hal-hal pokok yang menjadi batasan yakni moral. semua apa yang akan di ungkapkan dalam media tentunya harus ada pikiran yang menyangkut soal moral individu.

Donny (ICT) membuat sebuah tawaran hipotesis, " Jangan-jangan sebelum '98, diskusi itu disamakan. yang beda pendapat di singkirkan" sebuah prespektif unik dan membuat penasaran pesrta forum. apa iya sebelum '98 itu perbedaan itu harus disamakan dengan paksaan? semua butuh pembeljaran sejarah yang pasti. Dony juga menyatakan, Jangan-jangan gara-gara baper ada orang pakai pasal untuk balas dendam.

Pakdhe senggol seorang pelon admin media sosial @Jogjaupdate juga menyatakan, kita user, jadi takut, ini kena tidak ya (saat posting), ini kena tidak ya, kita maunya edukasi ke masyarakat tapi takut kalau dilaporkan jika ada yang tidak terima. "Di situ saya kadang merasa sedih" curhat Dhe senggol, sapaan akrab admin medsos @jogjaupdate ini. ketika itulah Edo (LBH Yogyakarta) memaparkan juga, di forum ini hadir ervani (korban UU ITE). Edo menyatakan sikap mending pasal 27 dihapus saja, bahkan 28 juga. saya rasa masalah ITE ini soal moral dan polisi punya Dispesi yakni memperhentikan laporan dan diselesaikan secara kekeluargaan dulu. Jangan sampai UU ITE ini sebagai fasilitas balas dendam.

Konteksnya adalah, Hukum diciptakan bukan untuk balas dendam dan menciptakan konflik. UU ITE jangan sampai membatasi kita, seolah olah ada ketakutan untuk berpikir mandiri di masa depan. Masyarakat jangan gumunan dan grusahgrusuh. ada berita verivikasi dulu sebelum di share ke orang lain. AJI Yogyakarta menyebutkan ada 2000 media online di Indonesia, namun hanya ada 211 yang layak.

Luki Antoro
Kadep Riset dan Kajian Strategi


@Ikatan Mahasiswa Bantul 2018 | Template By Oddthemes