DO-DOLAN GOWES BUDAYA Part 1




Kalau bukan kita, lantas siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, lantas kapan lagi?

Ya, sebagai generasi muda patutnya kita harus melestarikan budaya yang kita miliki. Selayaknya kita harus menjaga dan melestarikan budaya agar tidak terkikis oleh zaman, apalagi di era globalisasi ini terkadang kita mengesampingkan bahkan melupakan budaya kita sendiri. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melestarikan budaya yang kita miliki, salah satunya belajar dan mengenal lebih dalam suatu budaya tersebut. Hal inilah yang dilakukan IMABA (Ikatan Mahasiswa Bantul) pada Minggu, 30 April 2017 kemarin.

Dalam upaya melestarikan potensi budaya yang ada di Kabupaten Bantul, IMABA mengunjungi kampung batik yang berada di desa Giriloyo Imogiri Bantul. Kegiatan ini ialah salah satu bukti nyata kesungguhan para anggota IMABA untuk melestarikan budaya khususnya batik. Kegiatan yang dinamai “Do-Dolan Gowes Budaya” ini ialah program kerja sama divisi Seni Budaya dan Olahraga dan juga divisi PSDM. Do-Dolan Gowes Budaya untuk yang pertama kali ini diikuti sekitar lima puluh peseta juga panitia yang terdiri dari berbagai divisi di IMABA.

Sekitar pukul 09.00 WIB para peserta Dodolan Gowes Budaya tiba di Kampung Batik Giriloyo. Bangunan bergaya joglo dan gazebo-gazebo kayu menyambut kedatangan peserta di Kampung Batik Giriloyo. Kegiatan Do-Dolan Gowes Budaya ini dibuka dengan penyampaian materi oleh narasumber dari pengelola kampung batik.

Banyak sekali hal yang disampaikan oleh Tyas selaku narasumber. Dari mulai sejarah berdirinya Kampung Batik Giriloyo hingga sejarah batik itu sendiri, tak lupa proses pembuatan batik juga dijelaskan secara mendetail. Pada tahun 2009 Kampung Batik Giriloyo diresmikan beserta 1200 m kain batik yang dikerjakan oleh kurang lebih 1000 pembatik dalam kurun waktu setengah hari. Sebenarnya budaya membatik di Kampung Giriloyo sudah ada sejak tahun 1600-an.

Tradisi membatik ini turun-temurun dilestarikan oleh ibu kepada anak perempuan dalam keluarganya. Namun, pada waktu itu para pengrajin batik di Kampung Giriloyo menjadi pengrajin batik yang hasilnya hanya dijual pada pihak Kraton dalam bentuk kain cantingan saja tanpa pewarnaan. Karena memang pada zaman dahulu batik hanya digunakan oleh keluarga Kraton saja, namun kini batik bisa digunakan oleh seluruh kalangan masyarakat dengan motif yang semakin beragam. Tidak hanya melestarikan budaya, membatik juga menjadi mata pencaharian kurang lebih 1200 ibu-ibu dan perempuan di desa Giriloyo.

“Seorang pembatik bukan hanya seniman tetapi juga seorang pendoa, karena dalam prosesnya setiap pembatik selalu menyelipkan doa kebaikan untuk pemakainya, disetiap goresan-goresan batiknya” ungkap Tyas selaku narasumber.

Setelah pemaparan materi mengenai batik peserta diajak praktik membatik. Peserta diajarkan cara membatik menggunakan malam. Peralatan dan bahan seperti canting, kompor, kain, dan malam telah lengkap tersedia. Ada tiga belas langkah untuk membuat batik hingga siap untuk dijual.

Diantaranya seperti menggambar pola, nyanting, nglowong, mewarnai, dan juga nglorot. Membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk membuat batik tulis. Batik tulis ini dikerjakan oleh beberapa pengrajin yang memiliki keahlian masing-masing, seperti nglowong, nyecek, dll.

Batik tulis dengan motif yang rumit bisa dihargai hingga jutaan rupiah sesuai dengan proses pembuatannya yang memakan waktu dan membutuhkan ketelitian. Kain dan warna juga mempengaruhi harga jual batik tulis tersebut. Ada berbagai macam kain yang dapat digunakan sebagai media untuk membatik, seperti katun (primisima), sutra, dan blacu.

Bahan warnanya pun beragam, dari mulai warna kimia hingga warna alami dari dedaunan juga buah-buahan. Warna kimia lebih pekat dan tebal daripada warna dari bahan-bahan alami yang cenderung seperti pudar, namun batik yang menggunakan warna alami jauh lebih diminati khususnya oleh turis mancanegara.

Selesai praktik membatik peserta diajak keliling showroom dan juga melihat proses membatik yang ada di Kampung Batik Giriloyo ini. Dalam showroom ini banyak sekali batik yang dipamerkan. Showroom batik inilah salah satu media promosi yang dilakukan oleh pengelola Kampung Batik Giriloyo. Tidak hanya showroom, promosi juga dilakukan melalui pameran, online, juga bekerjasama dengan pemerintah dan tour agensi pariwisata.

Kegiatan Do-Dolan Gowes Budaya ini diakhiri dengan pembagian hasil membatik. Diharapkan kegiatan ini memberikan ilmu dan juga sebagai langkah awal untuk melestarikan budaya membatik di Kabupaten Bantul. Kita nantikan Dodolan Gowes Budaya part 2 selanjutnya.

“DODOLAN AYO, GOWES BUDAYA SINAU BARENG”

Upit Sarimanah



@Ikatan Mahasiswa Bantul 2018 | Template By Oddthemes